mahaseru jilid ii


bersama sahabat mencari damai, mengasah pribadi mengukir cinta (mahameru, dewa19)

dingin yang menusuk kulit hingga sumsum tulang memaksa untuk segera terbangun dan menggerakkan badan, ternyata membawa keberuntungan. terpampang pemandangan aduhai, di bawah cahaya sorotan matahari pagi, kabut merayap di atas permukaan danau dan perlahan menipis terbang. nikon d40 segera bekerja keras mengabadikan momen alam ke dalam memory card.


pendakian hari pertama, pendaftaran dan briefing segera diselesaikan setelah loket yang hanya buka pada jam kantor memulai pekerjaan di pagi itu. dengan perut terisi nasi pecel dan dada penuh semangat baru, perjalanan dimulai jam 0956, meninggalkan desa ranu pani. cukup ngos2an juga saat tanjakan awal meninggalkan daerah kebun, namun rupanya track yang disajikan bukan yang terjal, bahkan seringkali disodori bonus. jalur yang mengitari lereng bukit lebih menghadirkan pemandangan luas di sisi kiri, jurang, di kanan, tebing. cukup mengagetkan, dalam perjalanan berjumpa degan debby, teman sejak lama yang juga sudah lama tak jumpa, dalam rombongan 5 orang dari jakarta yang kemudian bergabung dengan kelompok 3 mili ini karena ingin juga camping di kalimati malamnya sedangkan sisa rombongan akan camping di ranukumbolo. perjalanan sempat terhenti krna tersadar bahwa cover tas jatuh. setelah berlari mencari menghabiskan 40 menit perjalanan PP, dengan hasil nihil, perjalanan dilanjutkan. 5 menit berselang, tiba di pos 1, 2341 mdpl, jam 1129, ternyata cover dipungunt, dibawa, lalu dikembalikan oleh temannya debby. beruntung ataukah sial, tidak kehilangan cover namun kehilangan energi lari turun naik. tiba di pos 2, 2378 mdpl, sekitar jam 1214, lalu di pos 3, 2463 mdpl, sekitar jam 1347. beberapa langkah dari situ, berbelok ke kanan dan sebuah tanjakan menyadarkan bahwa ini adalah pendakian. elevasi 30 meter, durasi 7 menit, jarak 88 meter. artinya, rata2 dalam 1 menit, mampu maju 12 meter sembari naik 4.2 meter. setelah itu perjalanan praktis mendatar bahkan mulai menurun hingga tiba2 terlihat kumpulan air memukau. ranu kumbolo !!! rasa cukup kaget namun suntikan semangat lebih terasa saat itu.

 

meninggalkan pos 4, 2457 mdpl, 1451, lewat jalan turun yg sedikit terjal langsung menuju danau. perut sudah mulai bermusik dan jam makan sudah jauh ditinggalkan sehingga s-roti menjadi pilihan saat itu, sambil menikmati lukisan danau di ketinggian 2429mdpl. kemudian berjalan menyusuri pinggiran danau, tak lama, jumpa dengan rian dan angkit yang sudah bertenda ria tepat di tepian danau. santap dulu nasi bungkus bekal dari ranu pani, sedangkan debby tetap lanjut, meninggalkan ranu kumbolo terlebih dulu. sekitar 1 jam istirahat, jam 1639 ranu kumbolo sudah dipunggungi. menikmati tanjakan cinta, elevasi sekitar 70 meter, jarak horisontal 200m, durasi 15 menit. dengan kata lain, dalam 1 menit, maju 13 meter sambil naik 4.5 meter. legendanya adalah, menanjak bukit cinta, sambil pikir pasangan idaman, tanpa menoleh ke belakang, niscaya cinta akan berhasil. maaf, shutter d40 ini harus ditekan.


 

sekiranya sudah cukup kagum dengan cantiknya ranu kumbolo, harus kagum lagi dengan oro-oro ombo yang menghamparkan warna ungu di permukaan dataran yang cukup luas. sedikit narsis berfoto tidak dilarang dan tidak menurunkan harga diri. ketinggian 2450, jam 1706. kemudian berjumpa dengan pos cemoro kandang, 2460mdpl, jam 1724. sambil istirahat, peralatan gelap dan peralatan dingin mulai disiapkan. saran dari basecamp, jangan melewati jalur cemoro kandang sampai kalimati di malam hari karena banyak hewan nocturnal yang berhabitat disitu, semacam singa, macan, panther, kijang, kuda sampai grand livina. dari cemoro kandang, track mulai menanjak, jauh berbeda dengan sebelumnya yang 100% datar.

disana nyalimu teruji, oleh ganas cengkraman hutan rimba (mahameru, dewa19)

tiba di pos jambangan, 2764mdpl, jam 1937. sejak meninggalkan cemoro kandang, lebih sering berjalan sendiri, juga saat di jambangan (sebenarnya juga sejak dari ranu pani). beberapakali berjumpa dengan pendaki lain berisitirahat, saling melewati.

kok senternya pake lampu yang merah bang?“.
headlamp yg dinyalakan memang yg merah, toh sudah cukup menerangi target langkah kaki 1 meter ke depan.
…. “soalnya, yang putih terlalu mainstream“.

eh, bang, itu lampu remnya nyala“, …… “ya maklumlah, yg nyetir orang tua“..

di lain waktu, “kenapa gak pake yg putih aja senternya?“, ….. “merah aja deh, kalo putih ntar ngebut“.

lepas dari jambangan jalur menurun terus hingga tiba di kalimati, jam 1949, 2695mdpl. tepat di sisi kanan saat masuk kalimati, rian sudah kerja bangun tenda, sambil disoraki angkit memberi semangat, sementara debby yang sudah tiba lebih awal 30 menit sedang asik negosisasi dengan porter sembari menggigil kedinginan :p.
segera setelah tenda tegak berdiri, suguhan makan malam oleh chef rian terhidang. enak tidak enak, kalo di gunung, tambah tidak enak. tak lupa, milo panas.

malam pertama pendakian, camping di kalimati, dengan rencana bangun jam 0200 untuk bergerak menuju puncak. belum tahu, track seperti apa dan suhu seperti apa yang sedang menanti.

alarm disiapkan oleh rian (ini versi akustik):

jilid i -  jilid ii - jilid iiijilid ivalbum foto

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *