17an @ merapi

merayakan ulang tahun tanah air, di puncak merapi.
10 hari setelah mendakian ke gunung sumbing. tepat setelah fisik kembali pulih.
terjadi perubahan personil, ada yang mendadak batal, ada juga yang mendadak ikut, tapi tidak ada yang mendadak dangdut apalagi mendadak kawin. akhirnya tujuh yang terpilih saja yang melakukan pendakian kali ini, bersama-sama dengan nona,astry,ekel,edy,lakman dan tyco.

sekitar tengah hari berlima naik bis menuju pos tingkir. edy dan tyco akan menyusul karena masih ada yang harus dikerjakan. bis kedua menuju arah solo, turun di pasar ampel, berpindah ke atas bis menuju cepogo. transit lagi. naik bis lagi menuju selo. penuh sesak. lakman segera tertidur dengan biadab bahkan sebelum berangkat. tiba di pertigaan beringin dan langsung pemanasan menanjak pada jalan aspal. pemanasan memang dibutuhkan untuk yang belum panas, 🙂 , apalagi untuk mereka yang masih dingin alias masih perawan gunung 😀 . pendakian perkenalan untuk astry dan lakman. lapor dan beristirahat sejenak di basecamp, lanjut menuju new selo. tanpa membuang waktu lama, langsung duduk bergerombol dan menikmati gorengan, teh dan kopi panas. dilanjutkan dengan nasi pecel telur, nasi goreng, indomie goreng. masing-masing dengan selera pribadinya.

30 menit sebelum jam 6, menundukkan kepala sejenak kemudian pendakian pun dimulai. lakman memimpin di depan, diikuti oleh ekel yang dibuntuti oleh nona. kalau biasanya berjalan lambat sendirian, kali ini ditemani astry dengan kecepatan yang tidak jauh berbeda. kecepatan santai.

menikmati setiap langkah kaki.

jalur tanah melewati kebun masih santai, terjal kadang saja. sama halnya setelah memasuki hutan, masih tanah, masih santai, terjal masih kadang saja. akhirnya edy dan tyco muncul, menyusul dan segera mendahului dengan kecepatan tinggi, sudah sekitar jam 8 malam.

pendakian kali ini mendapat sambutan hangat rupanya. tidak saja oleh kabut, tapi juga lengkap dengan hujan. awalnya gerimis saja, mungkin inilah merapi early warning system. tak lama gerimis berganti hujan. dengan cepat (baca: kalang kabut), bongkar tas dan mendayagunakan mantel. sebagai pendaki sejati (baca: orang sombong :p), mantel untuk as saja. beruntung, jalur yang dihadapi dalam keadaan hujan tersebut masih tanah, masih terjal. dihiasi aliran air di permukaan. hasil dari kombinasi tersebut adalah, licin, luar biasa licin. sebagai pendaki sejati (baca: tambah sombong), as dibebaskan dari beban tas. di bawah siraman hujan, melalui jalur terjal licin, tas di punggung dan dada, merayap naik dan terpeleset turun. akhirnya bertemu dengan 5 teman yang lain, sudah bertenda ria walaupun di tanah miring (pilihan lokasi yang unik), walaupun tetap basah dan bahkan kebanjiran. dengan badan yang sudah terlanjut basah, tas sudah dikembalikan (ternyata pendaki sejati gadungan), perjalanan tetap dilanjutkan bersama nona yang ikut bergabung. tyco dan lakman rupanya memutuskan untuk tetap camping dulu. sekitar 50 langkah tiba di pos dengan beberapa spot untuk tenda (pilihan lokasi yang seharusnya untuk camp, seharusnya). mendapat beberapa bonus (baca: jalan datar) setelah itu. rupanya hanya untuk persiapan fisik karena segera setelah itu jalur pendakian berubah terjal dan akan terus terjal (sampai puncak). tersusul oleh ekel dan edy lalu kembali tertinggal oleh mereka, namun masih tetap ditemani pendaki baru yang berkecepatan kurang lebih sama. sesekali bertemu dengan ekel dan nona yang sedang berisitirahat. edy tak lagi terdeteksi. lenyap.

mendaki melintas bukit,
berjalan letih menahan berat beban,
bertahan di dalam dingin,
berselimut kabut ranu kumbolo…

menapak jalan setapak,
bertanya-tanya sampai kapankah berakhir ?

alunan lagu mahameru dari album format masa depan milik dewa 19 menemani pendakian. ada (rombongan) pendaki lain yang rupanya menyukai lagu band tersebut. kebetulan sekali. ikut bernyanyi dan menambah semangat. beberapa lagu yang lain, tetap dari band yang sama. mantap..

sudah tengah malam ketika melewati jalur terjal tanah pasir. agak senang karena artinya sudah mendekati pasar bubrah, lokasi camp, dataran di bawah puncak. dengan susah payah terkadang merayap, jalur terjal laknat itu berhasil diselesaikan. berjumpa dengan ekel dan nona lagi, sedang beristirahat dan menunggu karena tak tahu harus berjalan ke arah mana, kabut. perjalanan dilanjutkan dan sayup-sayup di kejauhan terdengar alunan irama harmonika. kemungkinan terbesar (baca: satu-satunya) itu adalah edy. tiba di pasar bubrah, segera mencari lokasi yang yang (benar-benar) tepat untuk tenda. memang benar, edy sedang berharmonika dibalut sleeping bag-nya. dibantu oleh as, nona dan ekel, mendirikan tenda sedangkan edy berusaha menciptakan api unggun walaupun sulit mencari bahan bakar, sampai akhirnya buku catatannya yang dikorbankan. api jadi, tenda jadi. matras dan tas dirapikan dalam tenda sebelum masuk dan berganti kostum istirahat. cuci kaki, cuci muka, ganti kaos kaki, ganti sarung tangan, ganti celana, ganti baju. segera setelah itu, menikmati pop mie panas, susu panas, energen panas, susu jahe (panas juga), susu coklat (panas tentunya).

mereguk nikmat coklat susu,
menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda..
(mahameru, dewa 19)

suasana malam yang menyenangkan, bulan sabit, langit bertaburan bintang.
30 menit sebelum jam 4 pagi saat penerangan dimatikan karena disepakati untuk tidur. 30 menit sebelum jam 6 pagi, bangkit dari tidur. edy, ekel dan nona segera bersiap dan mendaki ke puncak melalui jalur (hanya) batu. sambil menunggu, menikmati indahnya langit dan udara pagi (lembayung pagi?). langit dengan kombinasi warna yang sangat memukau. biru, pink, orens, jingga dan entah warna apa itu namanya. tak bisa dikatai-katai. tak mampu mengabadikannya dalam foto seperti yang terlihat oleh mata telanjang. indah, terlalu indah. sanggup mengobati kelelahan. melunaskan semua kesulitan yang dilalui.

DSC_9659.JPG berjalan-jalan di pasar bubrah. sayang sekali, pasar ini berbeda. tidak ada yang berjualan. dataran dipenuhi oleh tenda-tenda pendaki lain. ramai, merayakan 17 agustus di gunung, sudah tradisi para pendaki. hal sama juga pasti terjadi di gunung lawu, slamet, merbabu dan gunung-gunung lain. bahkan ada juga pendaki dari negara lain. dari korea (beberapa pendaki tua), jerman (rombongan) dan entah dari negara mana lagi. pendakian merapi yang sebelumnya malahan berjumpa dengan pendaki dari senegal dan pantai gading. mungkin suatu saat piala dunia bisa diselenggarakan di merapi. saat matahari sudah mulai berbicara banyak, tas dijemur, kaos kaki dijemur, sepatu dijemur, celana luar dijemur, baju dijemur, kupluk dan segala sesuatu yang basah karena hujan semalam dijemur. termasuk badan ini, dijemur.

DSC_9823.JPG saat sedang mempersiapkan peralatan masak, 3 teman sudah kembali dari puncak. rasanya (baca: pasti) dilakukan dengan sengaja, turun saat mendekati jam makan :). menu untuk makan siang: nasi, ayam goreng dan abon. ada juga yang menikmati pop mie. energen dan susu juga tersedia. semuanya panas (kecuali abon). pendakian kali ini, air yang dibawa (sangat) banyak. trauma dengan pendakian sebelumnya ke sumbing yang miskin air. matahari sudah menyorot di atas kepala, lewat tengah hari, saat tenda dibereskan dan packing untuk pulang. setelah difoto oleh tripod, berlima segera memulai perjuangan pulang yang (lebih) berat. edy sempat memberikan 2 buah botol air yang masih bersegel pada pendaki lain yang (dipastikan) tidak berpuasa. formasi tidak banyak berubah. edy yang memimpin di depan, diikuti oleh ekel yang tetap dibuntuti oleh nona. yang berjalan lambat (selalu) di belakang saja.

perjalanan turun hanya sekali-sekali saja berisitirahat. kagum dan heran melihat jalur yang ada. entah bagaimana caranya semalam bisa melawati jalur itu (as). cukup lama baru tiba kembali di new selo. sudah sekitar jam 4 sore. as mengalami keletihan kaki sehingga kecepatan (yang sudah) lambat terpaksa lebih diperlambat lagi. bukan masalah.

menikmati setiap tantangan.
(yrb;20100817)

DSC_9900_.JPG di new selo, edy, nona, ekel dan lakman sudah menunggu. segera menikmati kopi panas, teh panas. bersih diri secukupnya. kembali tripod kemudian didayagunakan, foto bertujuh sebelum akhirnya kembali menundukkan kepala dan segera meninggalkan new selo dengan sisa tenaga yang ada. 30 menit sebelum jam 7 malam, dari pasar selo, carter mobil dengan harga yang (hampir) bersahabat menuju boyolali. dengan tubuh yang lelah, duduk lesehan (baca: gembel) di terminal boyolali menunggu bis. lewat dari jam 7 malam, bis yang ditunggu hadir. patas pula. terpaksa berdiri karena penuh (tidak) sesak. sekitar jam 8 malam, tiba di rumah. bersih diri dengan air hangat. segar. segera setelah itu bersama dengan ekel dan as mencari makan malam yang (paling) enak. pulang dari gunung, makan sea food. cocok. jam 11 malam akhirnya melakukan hubungan fisik dengan kasur empuk dan bantal yang nyaman di dalam kamar yang hangat. mengakhiri  petualangan bernuansa perdana ini.

pendakian perdana lakman.
pendakian perdana as (bukan iklan operator seluler).
pendakian perdana exelcior 65L (carrier e***r yang sangat nyaman dipakai).
pendakian perdana masak nasi di gunung.
pendakian perdana merapi untuk nona.
pendakian perdana merapi untuk ekel.
pendakian perdana ekel sampai puncak tertinggi 🙂 .


bersama sahabat mencari damai,
mengasah pribadi mengukir cinta…
(mahameru, dewa 19)

menyenangkan, pagi ini, mengenang kembali sambil melihat foto-foto, menuliskan yang teringat, (mencoba) menjadikannya kekal.

DSC_9637 (copy).JPG

hidup bukan programming, tak pernah ada perulangan yang sama
(yrb;20100818)

catatan perjalanan gunung merapi, 2010.08.17

tautan >> album foto

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.