sindoro

kledung – puncak sindoro

jarak horisontal 5.8 km
jarak vertikal 1735 m
tim bung edi, enstein, bangma marcell , yaws erbe
pengantar jelta, lezZz..

.

sabtu, 2009.05.09
diawali dengan perjalanan ber-bis dari salatiga (09.00) menuju bawen, dilanjutkan dengan bis menuju wonosobo. tiba di base camp sindoro (1414 mdpl) sekitar 12.00. berhubung base camp hanya ramai dengan motor para pendaki yg masih di atas, istirahat cukup sepi dan santai juga.

kondisi base camp yang seadanya sebenarnya agak kurang nyaman juga. setelah makan, membeli beberapa cindera-mata, pendakian pun dimulai (14.00). sempat bingung saat tiba di pertigaan (masih di desa), beruntung ada pendaki lain yang lewat, jadi bisa ikut di belakang mereka. awalnya, hampir salah jalan. sungguh tidak lucu, masih di desa sudah nyasar.

sakit hati juga, ternyata jalan keluar dari desa yang melewati ladang penduduk merupakan jalan yg bisa dilewati kendaraan. saat berjalan, sesekali penduduk lewat dengan motor. bahkan ada yg menawarkan ojek, sampai pos 2 katanya. huh, tak sudi. sempat berhenti sejenak (14.39-14.58), berteduh di salah satu pondok kebun (1468 mdpl) karena hujan yg cukup deras. tiba di pos 1 (1665 mdpl) yang merupakan akhir dari kebun penduduk sekitar 05.31. tentu, tak lupa beristirahat dulu.

melewati pos 1, jalan mulai curam dan dikelilingi pohon dengan jalur tanah maloi (tanah liat) yang licin. 16.13 tiba di “shelter” (1778 mdpl). jalur setelah itu melewati jalur hutan yg cukup lebat. jalan agak mendatar karena merupakan jalur memutar yang mengitari lereng sebuah bukit kecil lalu tiba di “shelter” berikutnya (1978 mdpl). sempat berpapasan dengan beberapa rombongan pendaki yg turun 16.30. tiba di pos 2 (1985 mdpl) sekitar 17.26. pada ketinggian 2182 mdpl, sekitar 18.22, berhenti sejenak, mendirikan tenda, makan malam, ber-api unggun lalu berisitirahat.

minggu, 2009.05.10
sekitar 00.17 perjalanan dilanjutkan menuju pos 3 (2337 mdpl), tiba di sana sekitar 00.48. pos 3 merupakan tanah datar yg cukup luas. saat itu dipenuhi oleh tenda rombongan pendaki. mungkin dari tegal atau sekitarnya, krna mereka ramai dengan dialek jawa yg “ngapak2”. jalur setelah pos 3 merupakan jalur terbuka dan sudah mulai banyak terlihat bunga edelweis di kiri dan kanan jalan.

pada ketinggian 2974 mdpl, sekitar 03.40, keletihan sangat terasa karena melewati jalur berbatu yang sangat terjal. 3 teman memutuskan untuk tidur sejenak walau pada akhirnya mereka berhasil menyusul dan mendahului. jalur mendekati puncak benar-benar terjal dan berbatu. apalagi saat itu mulai gerimis, tambah menantang. pada akhirnya, tiba di puncak 2149 mdpl sekitar 06.30. matahari sudah naik. sunrise tidak terlihat karena mendung dan awan cukup tebal menghalangi pandangan. teman-teman sudah tiba terlebih dahulu.

puncak kawah, dengan diameter sekitar 20m cukup indah. di dasar kawah terdapat “danau” kecil. sungguh disayangkan, cuaca yang masih mendung, masih menghalangi pandangan. teman-teman sudah mendirikan tenda sebelumnya, diputuskan untuk tidur dulu. hujan lalu turun makin deras dan sampai sekitar 08.28 bangun lebih dulu. pakai raincoat dan jalan-jalan di sekitar puncak sambil menugngu yang lain sadar.

sarapan dengan menu standar, mie, namun dengan lauk spesial, ikan sarden dan paha ayam goreng. ayam goreng paling nikmat yg pernah ada. saat itu belum bisa melakukan dokumentasi karena cuaca masih berkabut tipis. beberapa pendaki sudah mulai turun menuju base camp, kami masih setia menunggu karena hujan sudah mulai mengguyur lagi. kecerahan muncul sekitar 11.00 dan mulailah kami ber-domukentasi-ria. tak berpikir kalau perjalanan turun juga memakan waktu banyak.

sekitar 13.13 perjalanan pulang dimulai, tiba di pos 3 sekitar 15.54, di pos 2 sekitar 17.20 dan akhirnya tiba di pos 1 sekitar 18.27 disambut hangat oleh penduduk sekitar yang menawarkan ojek, kami masih tetap tak sudi. sempat ditinggalkan teman-teman di pos 2 karena tak kuasa menolak panggilan alam yg sudah di ujung.hehe…

perjalanan turun dari puncak memang dilakukan agak lambat karena bung edi sempat jatuh dan “kesleo lutut”. menyusuri jalan di tengah kebun penduduk, ditemani bulan yang mulai mendaki gunung sumbing. sangat indah dan 3b (bulat, besar, bersinar). menemani enstein yang berusaha sekuat tenaga untuk mengabadikannya sedangkan bangma dan bung edy jalan duluan. akhirnya tiba di base camp sekitar 19.12, ramai dipenuhi pendaki dari klaten yang sudah turun duluan. istirahat dan bersih-bersih sejenak lalu keluar dari base camp menuju jalan raya, mencari makanan (krn kurang berminat dengan makanan yang disediakan di base camp) sekitar 20.42. akhirnya ketemu warung yg masih buka 20 meter sebelum jalan menuju base camp sumbing, makan bakso panas (nasi habis) dan langsung berjongkok ria di pinggir jalan menuggu bis dengan penuh harap. sekitar 22.00 keberuntungan datang dalam bentuk bis menuju terminal bawen dan tiba di sana sekitar tengah malam.

senin, 2009.05.11
setelah belasan menit menunggu di bawen, akhirnya naik bis menuju salatiga dan tiba di poltas salatiga sekitar 30 menit setelah tengah malam.

sindoro, gunung yang memberikan tantangan cukup dengan jalur yg terjal. perbedaan dengan sumbing “seblas-duablas”, alias beda tipis. dilengkapi dengan cuaca yang sangat bersemangat ikut menantang.
sungguh, pendakian yang sarat makna.

catatan perjalanan ke gunung sindoro, 20090509

lihat album foto

1 Comment

  1. gunung penuh kenangan…… bagi teman2 pendaki yang belum pernah ke sindoro…… disarankan untuk mendaki dan melihat keindahaan gunung ini……..

Leave a Reply to enstein Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *